Bacaan Sujud Allahummaghfir lii dzanbi kullahu
Bacaan Sujud Allahummaghfir lii dzanbi kullahu ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 22 Dzulhijjah 1447 H / 8 Juni 2026 M.
Kajian Tentang Bacaan Sujud Allahummaghfir lii dzanbi kullahu
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ
“Ya Allah, ampunilah semua dosaku; dosa yang kecil maupun dosa yang besar, dosa yang awal maupun dosa yang akhir, serta dosa yang terang-terangan maupun dosa yang sembunyi-sembunyi.”
Kepastian bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terkadang mengamalkan doa dan dzikir ini di dalam sujud beliau didasarkan pada landasan dalil yang kuat. Landasan tersebut berupa sebuah hadits yang dituturkan oleh seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang terkenal dengan julukan Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Beliau menyampaikan keterangan:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa membaca di dalam sujudnya doa: ‘Ya Allah, ampunilah semua dosaku; dosa yang kecil maupun dosa yang besar, dosa yang awal maupun dosa yang akhir, serta dosa yang terang-terangan maupun dosa yang sembunyi-sembunyi’.” (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sosok yang telah diampuni seluruh dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, serta telah mendapatkan jaminan mutlak untuk masuk surga. Meskipun demikian, beliau tetap merutinkan diri untuk memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keteladanan ini menjadi tolok ukur bagi jemaah sekalian yang belum memiliki kepastian ampunan dosa maupun jaminan keselamatan di akhirat.
Manusia setakwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan tingkat keimanan tertinggi saja rutin beristigfar. Kondisi tersebut menunjukkan kelalaian yang besar apabila manusia biasa tidak merutinkan diri untuk meminta ampunan dengan dalih telah beramal dalam waktu yang lama, padahal belum ada kepastian mengenai diterimanya amalan-amalan tersebut.
Pelajaran pertama yang dapat dipetik dari doa sujud ini adalah jika sosok setakwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saja banyak beristigfar, maka manusia biasa pada umumnya memiliki kewajiban yang jauh lebih besar untuk memperbanyak istigfar. Hal ini dikarenakan tumpukan dosa yang dilakukan manusia sangat banyak, baik dosa yang berkaitan dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia.
Ragam Dosa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sesama Manusia
Dosa terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala sering kali terjadi melalui kelalaian dalam ibadah, seperti mendirikan shalat yang masanya terlambat atau kekhusyukan yang terganggu karena memikirkan perkara duniawi di dalam shalat. Di sisi lain, dosa terhadap sesama manusia juga sangat berpotensi terjadi setiap hari.
Seseorang tidak dapat menjamin bahwa dirinya tidak pernah menyinggung perasaan orang lain di dalam kehidupan sehari-hari. Lingkup paling dekat adalah hubungan di dalam keluarga:
- Seorang suami berpotensi menyinggung perasaan istrinya.
- Seorang istri berpotensi menyakiti perasaan suaminya.
- Orang tua sering kali tanpa sengaja menyakiti hati anak-anaknya.
- Anak-anak sering kali melakukan tindakan yang mengecewakan orang tuanya.
Mengingat luasnya potensi dosa tersebut, memperbanyak istigfar merupakan kebutuhan yang mendesak bagi setiap hamba.
Metode Doa: Penggabungan antara Global (Ijmal) dan Rinci (Tafshil)
Di dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu anhu ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan sebuah metode yang sangat sistematis di dalam memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Struktur doa sujud tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian utama.
1. Bagian Pertama: Permohonan secara Umum (Ijmal)
Bagian pertama terletak pada kalimat:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ
“Ya Allah, ampunilah semua dosaku.” (HR. Muslim)
Kalimat ini merupakan permohonan ampunan atas dosa secara umum. Penggunaan kata “semua” (kullahu) mencakup segala jenis dosa, kapan pun dan di mana pun dosa tersebut dilakukan, serta apa pun bentuk pelanggarannya. Seorang hamba memasrahkan seluruh kesalahan umumnya untuk dihapuskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Bagian Kedua: Permohonan secara Rinci (Tafshil)
Bagian kedua terletak pada kalimat kelanjutannya:
دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ
“Dosa yang kecil maupun dosa yang besar, dosa yang awal maupun dosa yang akhir, serta dosa yang terang-terangan maupun dosa yang sembunyi-sembunyi.” (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengawali rincian dosa di dalam doanya dengan menyebutkan diqqahu wa jillah, yaitu dosa yang sedikit maupun dosa yang banyak. Rincian berikutnya yang beliau sebutkan adalah awwalahu wa akhirah, yaitu dosa yang telah lalu maupun dosa yang akan datang, yang mana rincian ini berkaitan dengan dimensi waktu. Rincian yang terakhir adalah alaniatahu wa sirrah, yaitu dosa yang kelihatan (terang-terangan) maupun dosa yang tidak kelihatan (sembunyi-sembunyi).
Alasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan umatnya untuk tidak sekadar memohon ampunan secara umum seperti Allahummagfir li dzambi kullah (Ya Allah ampunilah dosaku semuanya) melainkan menambahkan rincian-rincian sesudahnya dijelaskan oleh para ulama. Melakukan perincian setelah memohon ampunan secara umum memiliki nilai yang lebih mendalam dari sisi pengakuan dosa, penyesalan, serta ketundukan seorang hamba atas banyaknya macam kesalahan yang telah diperbuat. Rincian tersebut berfungsi untuk menumbuhkan perasaan menyesal yang mendalam di dalam hati.
Perasaan menyesal merupakan unsur utama yang harus ada di dalam diri orang yang bertobat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
النَّدَمُ تَوْبَةٌ
“Penyesalan itu adalah tobat.” (HR. Ibn Majah)
Pengakuan tobat yang tidak disertai dengan rasa sesal menunjukkan bahwa tobat tersebut belum tepat. Seseorang yang bertobat secara tulus harus mengakui banyaknya dosa yang dilakukan dan menyesali perbuatan buruknya tanpa mengajukan alasan-alasan pembelaan diri. Atas dasar itulah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan umatnya untuk merinci jenis-jenis dosa yang dikerjakan.
Bahaya Menyepelekan Dosa-Dosa Kecil
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sengaja menempatkan kalimat diqqahu wa jillah (dosa yang sedikit maupun yang banyak) di awal rincian agar manusia tidak meremehkan dosa sekecil apa pun. Sikap menganggap sepele suatu dosa seperti menganggap wajar kesalahan yang kadarnya dinilai sedikit, merupakan perkara yang berbahaya. Tindakan tersebut menjebak pelakunya sehingga tidak merasa bersalah atas kemaksiatan yang diperbuat.
Padahal, pelanggaran-pelanggaran besar sering kali berawal dari kelalaian terhadap perkara-perkara kecil, sebagaimana pepatah menyebutkan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Kebakaran yang besar pun pada umumnya dipicu oleh percikan api yang kecil terlebih dahulu, bukan terjadi secara mendadak.
Sebagai contoh, fenomena seseorang yang pada awalnya rajin mendirikan shalat namun pada akhirnya sama sekali meninggalkan shalat terjadi melalui sebuah proses kelalaian yang bertahap. Perubahan tersebut tidak terjadi secara mendadak, melainkan berproses dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang disepelekan, seperti suka menunda-nunda waktu pelaksanaan shalat.
Proses kelalaian dalam ibadah shalat biasanya berawal dari kebiasaan menunda-nunda waktu yang semula dikerjakan tepat waktu, kemudian pelan-pelan diundur. Kebiasaan mengundur satu waktu shalat ini kemudian merembet pada waktu-waktu shalat yang lainnya. Setelah terbiasa menunda, timbul kecenderungan untuk mulai menguranginya, hingga dari lima waktu shalat hanya dikerjakan tiga waktu saja yang sekiranya disaksikan oleh orang lain atau dirasa ramai. Pada akhirnya, seluruh shalat ditinggalkan sama sekali.
Penyimpangan hidup pada umumnya tidak terjadi secara mendadak atau langsung berbelok secara ekstrem, melainkan berproses melalui jalur yang menyerong sedikit demi sedikit. Contoh nyata lainnya dapat dilihat pada sikap meremehkan batasan aurat, seperti enggan mengenakan kerudung dengan alasan hanya menjemur pakaian di depan rumah. Kelonggaran kecil ini kemudian berkembang menjadi kebiasaan pergi ke warung tanpa jilbab dengan alasan terburu-buru, hingga pada akhirnya berani menghadiri acara kondangan tanpa menutup aurat. Penyimpangan yang ekstrem selalu diawali dari sesuatu yang dianggap remeh. Atas dasar bahaya menganggap remeh dosa tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan umatnya untuk memohon ampunan melalui kalimat:
دِقَّه وَجِلَّه
“Dosa yang sedikit maupun dosa yang banyak.” (HR. Muslim)
Makna Memohon Ampun atas Dosa yang Akan Datang
Rincian berikutnya di dalam doa sujud tersebut adalah kalimat:
وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
“Dosa yang dahulu dan yang akan datang.” (HR. Muslim)
Pernyataan ini menunjukkan bahwa dosa terbagi menjadi dosa yang sudah dikerjakan dan dosa yang belum dikerjakan. Memohon ampunan atas dosa yang belum dikerjakan berfungsi sebagai pengingat bahwa tidak ada jaminan bagi seorang hamba untuk selamat dari perbuatan dosa pada hari esok. Manusia tidak memiliki kepastian akan hal tersebut, meskipun telah berusaha secara maksimal.
Setiap hamba harus menaruh perhatian yang sangat besar terhadap bagaimana kondisi akhir hayatnya. Urgensi mengenai akhir kehidupan ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari)
Ketentuan inilah yang diistilahkan sebagai husnul khatimah. Keberadaan seseorang yang berada dalam kondisi baik dan saleh pada hari ini tidak menjadi jaminan mutlak bahwa dirinya akan tetap baik dan saleh pada hari esok.
Beratnya Ujian Keimanan di Akhir Zaman
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan peringatan yang sangat keras mengenai beratnya mempertahankan keimanan di akhir zaman melalui sabda beliau:
يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا
“Ada seseorang yang di pagi hari dalam keadaan beriman lalu di sore hari menjadi kafir, atau di sore hari dalam keadaan beriman lalu di pagi hari menjadi kafir.” (HR. Muslim)
Setiap muslim dilarang keras meremehkan orang lain hanya karena merasa diri telah berjilbab, rajin menghadiri majelis taklim, atau rutin mendirikan shalat lima waktu. Sikap merendahkan sesama ini harus dihindari karena tidak ada jaminan mutlak bahwa seseorang akan tetap berada di atas kebenaran dan istiqamah sampai mati. Di sisi lain, orang yang saat ini dipandang buruk atau diremehkan belum tentu akan terus tenggelam dalam dosa hingga akhir hayatnya.
Ada kalanya seseorang yang hari ini tampak saleh mengalami perubahan di akhir hidupnya menjadi tidak saleh, seperti meninggalkan ibadah shalat, berhenti mengaji, melepas jilbabnya, bahkan murtad dari agama Islam. Sebaliknya, ada orang yang saat ini belum berada di atas jalan yang benar, belum mendirikan shalat, belum mengaji, atau bahkan belum memeluk agama Islam, namun kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahinya hidayah. Orang tersebut akhirnya masuk Islam, rajin mendirikan shalat, giat mengaji, dan wafat dalam kondisi husnul khatimah tepat pada saat berada di puncak kesalehannya.
Manusia tidak memiliki pengetahuan mengenai kondisi akhir hayatnya, apakah akan wafat di atas kesalehan atau tidak. Atas dasar itulah, permohonan ampunan atas dosa yang telah lalu maupun yang belum dikerjakan dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai bentuk harapan agar senantiasa dijaga dalam kebaikan pada hari-hari yang akan datang.
Rincian Ketiga: Dosa yang Terang-terangan dan yang Tersembunyi
Rincian ketiga di dalam doa sujud tersebut ditunjukkan melalui kalimat:
وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ
“Serta dosa yang terang-terangan maupun dosa yang sembunyi-sembunyi.” (HR. Muslim)
Klasifikasi ini menunjukkan bahwa dosa dapat terbagi menjadi dosa yang tampak terlihat oleh orang lain dan dosa yang tidak kelihatan. Contoh dosa yang tampak terlihat oleh orang lain di dalam kehidupan sehari-hari meliputi praktik riba, berkata kasar, sengaja tidak mendirikan shalat, tidak mengenakan jilbab, atau menghadiri tempat hiburan dan konser.
Adapun dosa yang tidak kelihatan dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu dosa yang bertempat di dalam hati dan dosa lahiriah yang sengaja dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Dosa yang bertempat di dalam hati sifatnya tersembunyi dan tidak dapat diketahui oleh orang lain. Ragam dosa hati ini meliputi:
- Riya: Mengharap pujian makhluk di dalam beramal, meskipun lisannya mengaku ikhlas.
- Sombong: Merasa diri lebih tinggi dari orang lain, walaupun ucapannya berusaha menyangkal hal tersebut.
- Su’udzon: Menaruh prasangka buruk di dalam hati terhadap sesama muslim.
- Iri hati: Merasa tidak senang atas nikmat yang didapatkan oleh orang lain.
Dampak buruk dari dosa hati sering kali berlanjut pada dosa lahiriah yang tampak. Sebagai contoh, ketika seseorang menaruh prasangka buruk di dalam hatinya lalu mengutarakan tuduhan tersebut kepada orang lain, tindakan itu telah menggabungkan dua jenis dosa sekaligus, yaitu dosa hati yang tidak kelihatan dan dosa lisan yang kelihatan.
Selain dosa hati, ada pula jenis dosa lahiriah yang melibatkan anggota badan seperti tangan. Tindakan maksiat tersebut seharusnya dapat terlihat secara kasat mata, namun pelaku sengaja mendirikannya secara rahasia dan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh manusia lainnya. Salah satu bentuk dosa yang tidak terlihat oleh manusia adalah kemaksiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi di dalam rumah saat kondisi sepi. Sebagai contoh, seseorang yang sedang sendirian di rumah memanfaatkan waktu tersebut untuk menonton tayangan yang tidak layak di televisi. Namun, begitu mendengar suara sepeda motor pasangannya datang, ia langsung mengubah saluran televisi ke tayangan pengajian. Perilaku tersebut merupakan contoh nyata dari dosa tersembunyi yang merusak hakikat iman.
Keimanan yang sejati pada dasarnya sangat membutuhkan kejujuran. Tolok ukur dari kejujuran iman seorang hamba terletak pada keselarasan sikapnya, baik ketika berada di tengah keramaian orang banyak maupun saat sedang sendirian tanpa ada satupun manusia yang melihatnya. Kondisi luar dan dalam diri hamba tersebut harus berada dalam keadaan yang sama. Saat berada di tengah khalayak umum ia tampil sebagai pribadi yang saleh, dan begitu pula saat sedang sendirian, ia tetap konsisten menjaga kesalehannya.
Ujian terberat bagi keimanan seorang hamba bukan terjadi pada saat ia berada di hadapan orang banyak, melainkan pada saat ia berada dalam kesendirian. Kemampuan seorang hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat di saat sendirian menjadi tanda nyata bahwa ia memiliki keimanan yang kuat dan tinggi di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Sebaliknya, apabila seseorang hanya menampilkan sisi baik di hadapan manusia, namun justru tenggelam di dalam dosa dan maksiat saat tidak terlihat oleh siapapun, hal itu menunjukkan bahwa imannya masih sangat lemah dan perlu segera dibenahi.
Sebagai penutup kajian sebelum memasuki sesi tanya jawab, doa sujud yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini hendaknya dilafalkan kembali secara bersama-sama untuk memantapkan hafalan dan pemahamannya:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ
“Ya Allah, ampunilah semua dosaku; dosa yang kecil maupun dosa yang besar, dosa yang awal maupun dosa yang akhir, serta dosa yang terang-terangan maupun dosa yang sembunyi-sembunyi.” (HR. Muslim)
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Bacaan Sujud Allahummaghfir lii dzanbi kullahu” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56313-bacaan-sujud-allahummaghfir-lii-dzanbi-kullahu/